Janji Tuhan Melindungi BangsaNya

Mazmur 92; 1 Timotius 4:8

Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Mana yang lebih mudah memulai sesuatu dari nol atau bangkit kembali setelah sebuah ”kejatuhan”?  Sebagai seorang bisnisman, mana yang lebih mudah: memulai bisnis dari nol atau bangkit kembali setelah bangkrut?  Dalam hal relasi, mana yang lebih mudah: memulai pernikahan dari nol, atau menerima kembali pasangan yang sudah melanggar prinsip kesetiaan?  Saya rasa masing-masing mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda.  Namun, bangkit kembali itu seringkali terasa lebih berat karena bukan mulai dari nol, tetapi mungkin dari ”minus”.

 

Musa menghadapi situasi yang berat di tengah-tengah umat Israel.  Umat ini sudah berulangkali mempertanyakan tentang kehadiran dan penyertaan Tuhan di tengah Manna yang mereka makan setiap hari dan tiang awal serta tiang api yang menyertai mereka. Kali ini umat Israel jauh lebih kurang  ajar lagi dengan membuat patung Anak Lembu untuk disembah.  Bahkan Harun juga ikut larut dalam penyembahan berhala yang terjadi ketika Musa sedang berkomunikasi dengan Allah di sebuah gunung.

 

Apa yang Musa lakukan terkait dengan situasi yang sukar di tengah umat Israel yang bebal ini?  Keluaran pasal 33 mencatat bahwa Musa tak menyerah dengan kondisi ini.  Musa meminta Tuhan sendiri yang menyertai kembali perjalanan mereka, dan bukan malaikat utusan-Nya. Secara spesifik Musa meminta tiga hal agar ia dapat terus memimpin orang Israel di tengah kejatuhan yang berulang terjadi.

 

Pertama, Musa meminta petunjuk Tuhan. “Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau ...” (ayat 13)

 

Kedua, Musa meminta penyertaan Tuhan. Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” (ayat 15)

 

Ketiga, Musa meminta keintiman relasi dengan Tuhan atau perkenanan Tuhan. Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku."   (ayat 18)

 

Ketika kita dalam sebuah situasi yang sulit : kita tahu apa yang akan terjadi ketika kita menyerah. Namun, kita belum tahu apa yang akan terjadi ketika kita berserah.  Berserahlah kepada Tuhan dengan meminta tiga hal ini: petunjuk, penyertaan dan perkenanan Tuhan.

Penulis: Pdt. Wahyu Pramudya