KALEIDOSCOPE

Bacaan : Titus 2:11-13; Mazmur 90:12

Kaleidoscope adalah suatu alat optik yang terbuat dari beberapa kaca yang disusun dengan sudut kemiringan tertentu sehingga dapat menghasilkan pantulan cahaya dengan warna yang indah. Semakin banyak sinar yang masuk, maka semakin bagus juga gambar yang dihasilkan. Kaleidoscope berasal dari tiga kata Yunani, Kalos artinya “beautiful”, Eidos, artinya “shape” atau “form”, Scopeo, artinya melihat atau mengamati. Jadi melihat dengan menggunakan kaleidoscope akan membuat hal-hal yang biasa (sederhana) akan berubah menjadi luar biasa.

Melihat merupakan proses kompleks (rumit) yang terjadi di dalam mata kita. Melihat itu sebenarnya bukan hanya sekadar bagaimana mata kita menangkap sebuah proyeksi benda dan otak kita memberikan informasi benda apakah itu. Melihat juga suatu pekerjaan pemaknaan yang dalam. Seseorang melihat bukan hanya kepada fakta atau benda, tapi apa yang ada di balik benda.

Di dalam Alkitab ada beberapa contoh tentang tokoh yang melihat secara mendalam, yaitu :
- Simeon, “Sekarang ya Tuhan biarlah hambamu ini pergi karena mataku telah melihat keselamatan yang datang dari pada-Mu.” Simeon melihat bayi Yesus yang sudah dinubuatkan dan ini menjadi pemaknaan yang mendalam dalam kehidupannya.

- Paulus, “For the grace of God that bringeth salvation hath appeared to all men”, (Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.). Kata “appeared” dalam bagian ini sama dengan bagian ketika Simeon melihat bayi Yesus. Apa yang dilihat dalam iman sama dengan apa yang dilihat secara fisik. Paulus dalam bagian ini melihat “appearance”, yang pertama adalah kasih karunia Allah yang sudah nyata (Titus 2:11) dan yang kedua adalah “penggenapan pengharapan”. Ini berarti bahwa Paulus menghidupi kehidupan antara Anugerah sampai kepada Kemuliaan. Apa yang dilihat secara iman itu sama jelasnya dengan apa yang dilihat secara fisik.

Kehidupan orang Kristen harusnya menghidupi kehidupan antara Anugerah sampai kepada Kemuliaan. Karena dengan ini demikian kita akan melihat dengan baik kehidupan kita, melihat ke belakang atau masa lalu sebagai sebuah pelajaran dan melihat masa depan dengan penuh pengharapan. Berbicara mengenai melihat kehidupan antara Anugrah kepada Kemuliaan adalah juga masalah kita dalam memaknai hidup. Apakah tiap hari kita melakukan dengan hal yang sia-sia atau kita memaknainya dengan iman kepada Tuhan Yesus sehingga kehidupan kita menjadi bermakna.

Seperti kata Elihu, “Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat. Maka hari-hari itu, baik kemarin, hari ini, maupun besok, harus berbicara kepada kita, artinya kita harus belajar sesuatu setiap hari yang kita lalui. Artinya ada makna yang kita temukan setiap hari.

Ketika kita menghidupi kehidupan antara Anugerah dan Kemuliaan, maka kita ini seperti melihat dengan kaleidoscope. Kita akan melihat dunia dengan cara berbeda, bahkan akan menghidupinya dengan cara yang berbeda pula. Kita akan meninggalkan dosa, kefasikan dan keinginan duniawi, sehingga dengan demikian kehidupan kita akan menjadi bijak. Seperti kata pemazmur dalam mazmur 90:12 “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”


Astri Sinaga

Penulis: