DAUD, NABAL & ABIGAIL

Bacaan : 1 Samuel 25:2-39 Bacaan : 1 Samuel 25:2-39 

Zaman sekarang murupakan zaman kemarahan. Di dalam setiap sudut kehidupan kita seolah-olah penuh dengan kemarahan, marah terhadap masyarakat, marah terhadap orang lain, marah terhadap keluarga bahkan marah terhadap diri sendiri. Banyak berita yang mengerikan terjadi akhir-akhir ini diakibatkan oleh karena kemarahan. Betapa menakutkan kemarahan ini, kemarahan bisa menyebabkan perpisahan bahkan bisa merusak kehidupan seseorang selamanya. Keputusan dan tindakan yang dibuat saat marah sebagaian besar banyak yang salah. Karena ditengah kemarahan sangat sulit untuk menggapai kebenaran Allah.  Chip Ingland reaksi orang2 tentang kemarahan diringkas menjadi 3 reaksi. Tipe 1 tipe meledak. Kemarahan yang meledakkan tidak peduli dalam situasi apapun, dengan siapapun bagaikan bom yang meledak amarah itu harus dikeluarkan. Jika bom meledak sudah pasti  akan ada korban orang yang mengeskpresikan kemarahannya dengan ledakan maka keluarga dan orang yang berhubungan dengan dia akan mendapatkan  luka yang dalam. Tidak peduli bagaimana luka yang diterima orang lain saya hanya ingin meledakkan kemarahan saya.  Tipe kedua adalah tipe represif (menekan) justru sebaliknya seakan-akan dirinya tidak memiliki kemarahan menyangkal kemarahan, menyembunyikan kemarahan. Dia takut orang-orang disekitarnya akan membencinya jika dia mengungkapkan amarahnya. Meskipun di dalam dirinya ada kemarahan tetapi dia tidak mengungkapkannya, menyembunyikan amarah ini seperti memberi makan racun pada jiwa kita dan sudah pasti amarah di dalam diri kita menimbulkan masalah lain dan juga akan membusuk dan meledak ditempat lain. Tipe  ketiga adalah tipe bocor. Dimana amarahnya mengalir sedikit demi sedikit dengan cara lain. Kemarahan yang tidak diekspresikan dengan kemarahan  tetapi sedikit demi sedikit mengkritik atau mengeluh akan orang lain juga menfitnah orang lain dan menghujat dari belakang mengumpat pada saat tidak dilihat. Kemarahan ini tidak langsung diekspresikan kepada target amarah, tetapi mengekspresikan amarahnya kepada orang lain. Daud juga mengalami tipe marah yang pertama yaitu meledak. Ketika Daud mendengar kabar dari 10 anak buahnya mengenai jawaban dari Nabal, Daud begitu sangat marah sampai dia memerintahkan 400 anak buahnya dan Daud sendiri menyandang pedang untuk membunuh Nabal dan semua laki-laki yang ada pada keluarga Nabal sebelum matahari menyingsing. Kemarahan Daud begitu memuncak berbanding terbalik jika kita melihat di dalam pasala sebelumnya dimana Daud begitu dapat menahan diri untuk tidak membalas membunuh Daud meskipun Daud memiliki kesempatan untuk membunuhnya. Daud merasa gentar untuk membunuh seorang yang diurapi oleh Tuhan. Daud mengerti dengan sangat jelas bahwa jika dia membunuh Saul maka itu merupakan suatu hal yang keji di hadapan Tuhan. Namun berbanding terbalik dengan Nabal yang tidak mengejar-ngejar Daud, tidak berkeinginan untuk membunuh Daud, hanya mengatakan “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai? Zaman sekarang banyak hamba yang melarikan diri dari tuannya. Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nabal dapat membuat Daud begitu marah. Daud bersumpah ingin membalaskan kejahatan Nabal. Memang Nabal tidak ingin membunuh Daud, tetapi tanpa disadari Nabal telah menyentuh sisi lemah Daud yaitu harga dirinya. Daud yang dari kecil tidak dianggap oleh keluarganya, menyimpan kepahitan itu sekian lama dan akhir terkorek oleh Nabal sehingga membuat Daud begitu sangat marah.  Daud merasa bahwa Nabal adalah orang yang tidak tahu berterimakasih membalas kebaikan dengan kejahatan.  Namun meskipun Daud begitu marah dan ingin melakukan pembunuhan massal, Allah tetap mengasihi Daud, Allah tetap memelihara Daud meskipun Daud tidak meminta petunjuk Tuhan, Daud tidak menantikan waktu Tuhan. Allah mengirimkan Abigail untuk mengingatkan Daud daripada berbuat dosa yaitu mencari keadilan sendiri. Abigail seorang yang takut akan Tuhan tahu bahwa tindakan Daud merupakan suatu tindakan yang salah, maka Abigail dengan bijak mengingatkan Daud. Dan Daud dengan rendah hati memuji Tuhan yang telah mengirimkan Abigail untuk mencegah dia dari hutang darah. Dan memuji kebijakan Abigail. Untuk itu sebagai orang yang telah dipilih oleh Tuhan, mari kita menyadari bahwa setiap kita memiliki titik lemah dalam diri kita yang bisa sewaktu-waktu muncul dan sangat membahayakan jika kita tidak menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. mari kita juga belajar untuk rendah hati seperti Daud yang mau ditegur dan di ingatkan oleh siapapun itu. Dan mari kita belajar untuk selalu mengandalkan Tuhan di dalam setiap hal yang kita lakukan. Tuhan akan menolong kita menjadi orang yang diperkenan olehNya. Tidak mudah tetapi bukan berarti tidak bisa. Pelajaran di dalam pasal 25 ini membuat Daud disebut sebagai orang yang diperkenan oleh Tuhan. maka mari kita belajar untuk menjadi orang yang diperkenan oleh Tuhan karena Tuhan telah mengirimkan Roh Kudusnya untuk memampukan kita berjalan bersama dengan Dia.


Ev. Rista Juliana

Penulis: