YESUS BERJALAN DI ATAS AIR

Bacaan : Matius 14:22-33


Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!," lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
(Matius 14:22-33)


Setiap manusia dilahirkan di dalam dunia dalam kondisi sebagai orang berdosa. Selanjutnya kita akan menerima ajaran, nasehat, pengalaman yang mempengaruhi proses hidup kita, yaitu cara kita berpikir dan bersikap. Ini disebut sebagai mindset.

Menurut kamus Mirram Webster, mindset adalah sikap atau kecenderungan mental; kondisi pikiran yang tetap. Mindset mencakup hal-hal seperti sumber pikiran dan memori pusat kesadaran; menghasilkan ide, persepsi dan perasaan. Juga mencakup sikap mental dalam merespon sesuatu kepercayaan-kepercayaan yang mempengaruhi cara pandang, perilaku, atau sikap.

Perikop yang kita baca mengisahkan tentang Yesus membuat mukjizat berjalan di atas air. Setelah Yesus memberi makan lima ribu orang hingga kenyang, maka Ia menyuruh mereka pulang. Karena Yesus kelelahan, Ia mengambil waktu untuk berdoa sendirian. Sementara para murid berada di atas perahu.

Kira-kira jam tiga malam, perahu para murid diombang-ambingkan oleh angin sakal. Ketika murid-murid-Nya melihat satu sosok berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!," lalu berteriak-teriak karena takut. Hal ini dilatarbelakangi oleh kepercayaan orang Yahudi bahwa danau dan laut adalah rumah hantu atau roh jahat. Itulah sebabnya para murid meneriaki Yesus sebagai hantu. Ini adalah persepsi yang dipengaruhi oleh mindset mereka.

Dalam hal ini Yesus tidak marah atau tersinggung terhadap para murid. Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Perkataan Yesus ini mengingatkan para murid tentang Tuhan yang berkata AKU adalah AKU dalam Keluaran 3:14. Sehingga Petrus mengatakan itu adalah Tuhan. Yesus mempunyai tujuan mengoreksi persepsi para murid bahwa danau dikuasai oleh hantu/roh jahat.

Dalam hidup orang Kristen seringkali dipengaruhi mindset tertentu yang membuat iman tidak utuh dan tidak bertumbuh. Mari kita singkirkan itu semua supaya kita boleh memiliki iman yang kuat dan terus bertumbuh, hidup dalam sukacita bukan ketakutan.


Pdt. Hadi Sugianto Lie

Penulis: