Anak Lembu Emas

Mazmur 92; 1 Timotius 4:8

Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

 

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan karena di dalam menunggu kita membutuhkan kekuatan dan konsentrasi yang tinggi. Tetapi di dalam menunggu ternyata ada sebuah pelajaran yang bisa diambil, yaitu kita belajar sabar, setia dan mengenal diri kita lebih lagi. Tetapi beberapa orang tidak sabar dalam menunggu dan mencari jalan keluar lain yang lebih gampang dan lebih cepat (instant).

 

Bangsa Israel adalah contoh bangsa yang tidak sabar dalam menunggu. Mereka diminta  Musa yang adalah tanda kehadiran Allah. Musa waktu itu sedang berbicara dengan Allah di gunung Sinai. Karena tidak sabar menunggu, mereka dihinggapi rasa takut dan merasa bahwa Allah sedang tidak ada bersama mereka. Maka bangsa Israel mengambil sebuah inisiatif untuk membuat allah lain bagi mereka. Bangsa ini mendesak Harun untuk membuatkan allah bagi mereka. Di tengah tekanan Israel, akhirnya Harun menuruti dan membuatkan mereka patung  anak lembu emas, yang terbuat dari anting-anting yang mereka miliki.

 

Patung anak lembu emas adalah sebuah gambaran kegagalan Israel menjaga kepercayaan dan kesetiaan dari Tuhan. Bangsa ini sudah diberikan janji sebuah tanah perjanjian dan penyertaan yang  luarbiasa,  asalkan mereka bisa melakukan 10 perintah Allah yang mengatur hubungan orang Israel dengan Allah dan sesama. Tetapi mereka gagal dan sama sekali tidak ingat apa yang Tuhan sudah lakukan selama mereka keluar dari Mesir. Ini adalah sebuah penurunan spiritual, karena mereka menggantikan Allah yang luar biasa dengan patung yang tidak bisa melakukan apa-apa (Mzm.115:4-8, Yer.10:3-5, 8-9), hanya karena tidak bisa menunggu Musa.

 

Kadang kita ini bisa sama dengan bangsa Israel yang tidak bisa menunggu waktu Tuhan. Tidak bisa sabar dan tidak setia untuk menunggu Tuhan menjawab doa dan janji-Nya, akhirnya kita menggantikan dan melupakan apa yang dibuat oleh Tuhan dengan kekuatan diri sendiri atau mencari jalan lain yang tidak berkenan di hadapan Allah kita.

 

Akhirnya Allah memang harus mendisiplin kita seperti apa yang dilakukan kepada bangsa Israel. Maka  sekarang belum terlambat kalau kita merasa bahwa diri mulai undur, tidak percaya akan Allah dan tidak setia. Datanglah kepada Tuhan dan bertobatlah kepada-Nya, sehingga kita akan mendapatkan pengampunan dari Allah, seperti orang Lewi yang memilih untuk kembali membela Allah.

 

Dari bagian firman Tuhan ini kita juga bisa belajar bahwa menunggu waktu Tuhan itu harusnya menjadi hal yang menyenangkan karena Tuhan tetap memelihara kita. Harusnya kita menjaga diri, tetap setia dan yakin maka kita akan menikmati janji-Nya yang begitu indah.

Penulis: Ls. Herman